Saya tadinya sempat sepakat, semakin dewasa seseorang, entah bagaimana dan kenapa lebaran jadi entitas yang makin biasa saja dan kehilangan marwah sekaligus kemegahannya. Dalam budaya timur, setidaknya lingkungan dan budaya saya, bertambahnya usia seseorang dari fase anak menuju remaja sampai akhirnya menjadi dewasa penuh, berarti juga kehilangan pundi-pundi THR dari sanak famili, itu juga yang terjadi pada saya. Tapi, apa iya itu yang membuat saya kehilangan antusias menyambut lebaran? Atau karena ketika dewasa, saya tidak lagi punya waktu dan momen untuk melakukan serangkaian kegiatan selama ramadan dan lebaran, tersebutlah buka bersama, main petasan, jalan-jalan pagi, atau antusias berbelanja baju baru dan kue lebaran. Atau, memang dasarnya saya saja yang makin dewasa ternyata juga makin jauh dari agama, entahlah. Saya cukup lama denial dan tidak mau menerima fakta bahwa saya harus merelakan diri tidak bisa terlibat di banyak acara buka bersama, sahur on the road, memainkan mer...
Selamat datang dan selamat membaca, serta terimakasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca ini dalam hati. Langsung saja, mari memulai bersama.