Saya selalu penasaran, juga menyimpan sebuah pertanyaan tanpa jawab setidaknya 3 tahun belakangan, benar-benar 3 tahun, sebenarnya sampai mana limitasi perasaan manusia bisa diuji? Pertanyaan itu datang tak lama setelah Ibu meninggal 2020 lalu, saya yang tadinya merasa selalu punya safe place atas setiap kesalahan juga kegagalan dalam hidup, secara serta merta runtuh dengan mudahnya. Pada titik itu, saya mencapai rasa sedih dan marah yang teramat, saya kira, saya sudah sampai di limitasi rasa duka terjauh yang bisa saya rasakan juga keluarkan. Tak sampai dua tahun setelah kepergian Ibu, nenek saya berpulang, dan benar saja, rasa sedihnya tak sedahsyat kehilangan Ibu, saya berkontemplasi, apakah iya limitasi terjauh saya dalam mengungkapkan juga meluapkan rasa sudah lebih dulu tumpah ruah saat melepaskan mendiang Ibu. Atau, justru ada bagian-bagian dalam diri saya yang entah bagaimana caranya dan bagaimana mendeskripsikannya mengalami perubahan, sederhananya belakangan saya menyebutnya ...
Selamat datang dan selamat membaca, serta terimakasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca ini dalam hati. Langsung saja, mari memulai bersama.