Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2020

Mungkin Kita

Barangkali kita butuh jeda sejenak Dari semua bising, tanya dan ragu Mungkin juga perlu kembali menata Rasa dan kata kata Siratan dan pilihan Mungkin kita perlu terima Bahwa tak perlu ada kesempatan kedua Mungkin kita perlu kembali Pada keasingan masing masing Mungkin kita perlu tersadar Pada harapan yang lama pudar Mungkin kita perlu percaya Pada takdir yang tak sesuai rencana Mungkin kita perlu merasa Pada rasa yang telah sirna Mungkin kita perlu mengamini Pada hati yang tak lagi tersakiti Mungkin kita perlu merayakan Pada jujur yang lama tertahan Mungkin kita perlu mengingat Bahwa tak ada satupun yang perlu diingat

Renjana

Renjana Temukan dalam jumpa Padukan akan rasa Rekatkan dengan doa Satukan pada Hagia Renjana Jelaskan yang tersirat Agar sama-sama saling Uraikan yang tertutup Tuntun pada keterbukaan Renjana Dalam termenung Menyusuri petang menjumpai kekal Dalam terpaku Memantra doa mengepal rasa Renjana Dominasi dengan suka Iringi dengan canda Sekali sisipkan duka Agar tak lupa pinta doa Renjana Tidak saja kali ini Aku bermain hati Pada dirinya Dengan sebenar-benarnya Renjana Aku menginginkannya Hanya dirinya Tanpa lain dan tapi Tanpa ragu dan syarat Renjana Lekatkan Dekatkan Pekatkan Satukan Renjana Rencana Kali ini, kuharap selaras dengan hati dan nurani

Memoar : Babak satu

Kita pernah teramat saling Berbahagia juga bersuka Namun juga pernah sama-sama paling Menyakiti juga mengingkari Bagaimanapun, kita pernah berjanji Saling membutuhkan Saling memahami Saling menerima Tetapi, kita juga pernah sama-sama Melepaskan Tidak peduli Berpaling Sekarang, kita harusnya tau Bahwa masing-masing telah menjadi asing Mungkinkah, kelak kembali merebak Sepasang dan menyayang Mencoba memahami sekali lagi Mencoba menerima kali kedua Babak satu

Freedom of speech : Kebijakan prematur dan banyaknya tai

Sampai pada saat nulis ini, gue masih bersikukuh pada teori bahwa freedom of speech itu gak absolut dan sebenar-benarnya bebas, ada batas disana, batasnya adalah hak dan ketersinggungan orang lain. Iyaa, batasan itu ada, tapi abu-abu banget. Contoh paling sederhananya lo bisa mengucapkan satu kalimat yang sama kepada dua orang yang berbeda, dan mungkin lo akan dapet dua respon yang berbeda, satu orang biasa aja, satunya tersinggung dan marah-marah, padahal kalimatnya sama.  Jadi ketersinggungan itu batasnya abu-abu, dan bingung juga standard siapa yang mau dipakai buat dijadiin patokan.  Masalahnya, kebijakan dan otoritas yang mengatur Freedom of speech itu sendiri juga bias, kalo kita ngomongin hak sebagai manusia. logikanya ya kita sangat punya hak untuk menggunakan hak freedom of speech kita. Kalo kita ngomongin konteks sebagai warga negara pun hak tersebut tetep masih ada, karena gak ada dan gak seharusnya pemerintahan dan negara itu anti kritik.  Pada akhi...